Jumat, 18 Desember 2015
Kebiasaan Orang Tua Yang Sangat Merugikan Anak!!!
KALAU ada barang atau perhiasan dunia yang paling berharga, itulah anak namanya, dia mengalahkan seluruh harta lainnya, dia diatas segala sesuatu yang dimiliki. Anak merupakan perhiasan kehidupan dunia yang menjadi kebanggaan orang tua.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an (QS. Al-Kahfi; 46):
Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.
Kehadiran anak bagi orang tua adalah sesuatu yang di tunggu-tunggu. Sebagai buah hati ia mampu menjadi daya pemikat yang kokoh dan perekat yang kuat dalam jalinan kasih sayang dan hubungan harmonis berumah tangga. Dengan kata lain, anak merupakan salah satu unsur yang sangat kuat untuk memperkokoh jalinan kemesraan dan kasih sayang antara suami istri.
Artinya: “anak itu adalah buah hati” (HR. Abu Ya’la)
Sedangkan Orangtua adalah panutan anak dalam bersikap dan bersosialisasi. Anak yang masih dalam usia berkembang, dan umumnya anak akan meniru perilaku dan kebiasan ayah serta ibu mereka. Sebab, bagi anak apa yang dilakukan orangtua adalah teladan terbaik.
Dari seorang psikolog klinis. Carrie Contey, berkata "Anda tidak bisa meminta mereka untuk aktif bermain, kalau ternyata Anda sendiri selalu menonton televisi sepanjang hari saat berada di rumah,".
Beberapa orangtua yang sadar memiliki kebiasaan buruk mengaku bahwa tidak ingin anak-anak mereka mencontoh hal-hal yang tidak baik. Ironisnya lagi, alih-alih mengurangi atau menghentikan kebiasaan yang dianggap buruk tersebut, orangtua malah kian “rajin” menujukkannya pada buah hati mereka, sebagai contoh :
* Berbohong Demi Kebaikan
Istilah populernya adalah bohong putih atau white lies, padahal apapun alasannya, berbohong bukanlah sesuatu yang baik, apalagi jika melakukannya di depan anak atau membohongi anak secara langsung.
Psikolog dan Penulis Alyson Schafer, pada bukunya yang bertajuk Honey, I Wrecked the Kids, mengatakan bahwa bagi sebagian orang berbohong adalah praktik yang biasa dilakukan dalam kehidupan. Akibat dianggap lazim, sejumlah orangtua dan manusia dewasa lainnya kerap tidak sadar saat sedang berbohong.
Contoh yang umum dilakukan, misalnya saat Anda ditilang polisi karena melanggar lampu merah. Untuk memangkas waktu, Anda pun berbohong pada polisi kalau sedang terburu-buru mengatar anak yang sudah terlambat ke sekolah. Padahal di saat yang sama, buah hati Anda sedang duduk manis di bangku penumpang, dan memperhatikan ibunya mengucapkan kebohongan pada orang lain.
* Menyimpan Rahasia Dari Pasangan
Tidak sedikit orangtua yang memiliki perbedaan pandangan akan metode mengasuh anak. Salah satunya soal jenis makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi si kecil.
Suatu kali Anda tengah malas memasak, Anda memutuskan untuk membelikan anak makanan cepat saji. Namun, karena takut ketahuan suami yang melarang anak mengonsumsi jenis makanan tersebut, Anda pun membuat anak berjanji untuk menyimpan rahasia bahwa dirinya baru saja melahap satu tangkup hamburger.
Mengenai hal ini, Alyson mengatakan, apabila Anda terus-menerus memaksa anak menyimpan rahasia dan berbohong, mereka akan menganggap berbohong untuk menjaga perasaan orang lain itu lumrah.
* Terlalu Sering Bermain Piranti Elektronik
Piranti elektronik atau gawai memang diciptakan untuk memudahkan komunikasi dan melancarkan pekerjaan. Namun, sebaiknya saat sedang menghabiskan waktu bersama si kecil, simpanlah gawai Anda dan pusatkan perhatian pada si buah hati yang menggemaskan.
Anak yang sering melihat orangtua bermain atau menggunakan gawai di rumah, akan menganggap bahwa alat tersebut adalah media yang tepat untuk bersosialisasi. Akhirnya, terciptalah pemikiran bahwa kegiatan di luar rumah bersama teman kecil mereka yang lain tidak begitu penting, karena bermain gawai jauh lebih menyenangkan.
* Emosional
Hindarilah kebiasaan cepat marah atas hal-hal yang sederhana, pada siapapun termasuk pada anak. "Anak-anak cenderung percaya bahwa hal-hal buruk yang menyebabkan Anda marah adalah kesalahan mereka," kata Susan Newman, Psikolog yang menuliskan buku berjudul Parenting an Only Child.
* Mengolok-olok Orang Lain Secara Berlebihan
Walaupun Anda merasa jengkel dengan teman atau kolega, usahakanlah untuk tidak bergunjing dan mengolok-olok mereka di depan anak. Apalagi jika disertai “bumbu penyedap” berupa kata-kata buruk dan sumpah serapah yang tidak pantas di dengar si kecil.
Sikap yang demikian akan membentuk pola pikir pada anak, bahwa mereka yang dianggap menyebalkan pantas diolok-olok dan dibicarakan dengan kata-kata yang tidak pantas didengar. Selain itu, kebiasaan buruk Anda ini pun akan menurunkan rasa empati dalam diri anak terhadap lingkungan sosial mereka.
(Christina Andhika Setyanti Sumber: kompas.com/http://www.kabarummat.com)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar